Teropong Bisnis | Homepage
Aturan Baru untuk Mengontrol Harga Properti

Aturan Baru untuk Mengontrol Harga Properti

0 Comments 🕔03.Oct 2013

Baru-baru ini diumumkan bahwa akan diterapkan aturan baru dari Bank Indonesia. Aturan baru ini diesbut sebagai loan to Value atau LTV. Ini adalah aturan yang dibuat untuk membantu mengontrol harga properti agar tidak mengalami kenaikan yang terbilang tidak rasional.

Ada banyak orang yang ingin berinvestasi di dalam bentuk rumah, tanah dan segala bentuk properti yang ada. Satu orang terkadang bisa memiliki lebih dari satu properti seperti tumah atau ruko. Hal ini sering disebut sebagai bentuk investasi dan setiap individu memiliki hak untuk itu.

Investasi di dalam bentuk properti dinilai sangat menguntungkan dan dari investasi ini, banyak pemilik properti yang ingin bisa menjual dengan harga yang tinggi. Terkadang, beberapa pemilik properti menawarkan harga yang terlalu tinggi dan sebaliknya, ada juga pembeli atau mungkin agen properti yang dengan sengaja meminta harga yang terlalu rendah untuk keseluruhan nilai properti.

Hal ini membuat peta perdagangan properti menjadi sedikit tidak terkendali dan untuk menghindari perkembangan yang tidak perlu, Bank Indonesia membuat aturan baru seperti yang disebutkan di atas. Menurut pakar perbankan dan keuangan, aturan baru ini akan bisa menekan kenaikan harga properti yang dinilai tidak rasional. Dengan kata lain, aturan ini dibuat untuk mengontrol harga properti.

Sebagai dampaknya, kemungkinan permintaaan terhadap properti akan menurun. Hal ini disebabkan oleh peminat properti yang akan berpikir dua kali untuk membeli properti baru. Permintaan properti tentu saja masih akan melihat segmen pasar yang ada dan para ahli percaya bahwa hasil dari penerapan aturan baru ini akan membawa hasil yang positif bagi dunia properti.

Aturan baru yang dibuat oleh Bank Indonesia ini berisikan aturan mengenai besaram KPR atau kredit kepemilikan rumah pertama, kedua dan seterusnya. Di dalam aturan baru ini, diterapkan aturan yang lebih detil. Misalnya, kredit kepemilikan rumah pertama dengan tipe 70 meter persegi atau lebih, pihak bank memperbolehkan kredit sebesar 70% saja.

Sementara itu, untuk rumah kedua, kredit yang diberikan adalah sebesar 60% dan rumah ketiga kreditnya sebesar 50% saja. Dengan memberikan aturan seperti ini, sudah dipastikan pasti akan ada beberapa individu yang berpikir ulang untuk bisa memiliki lebih dari satu properti melalui KPR. Tentu hal ini akan terjadi hanya jika aturan baru ini diterapkan dengan baik.

Adanya aturan baru ini mungkin membuat beberapa orang yang berprofesi sebagai agen properti menjadi sedikit kesulitan untuk beraksi. Namun tujuan Bank Indonesia untuk bisa mengontrol harga properti bisa dimengerti. Harga properti yang membubung tinggi tanpa terkendali memang menyisakan satu masalah baru yang kurang baik di dalam waktu ke depan dan langkah penting sudah diambil.

Similar Articles

Perkembangan Trend Deflasi Di Indonesia

Perkembangan Trend Deflasi Di Indonesia 0

Saat ini banyak diantaranya negara yang mengalami trend deflasi yang disebut pula sebagai deflasi global. Sementara untuk

Lihat 3 Hal Ini dan Terapkan Passion dalam Bisnis Anda!

Lihat 3 Hal Ini dan Terapkan Passion dalam Bisnis Anda! 0

Passion merupakan hal paling penting untuk dapat sukses dalam bisnis saat ini. Karena dengan passion atau

Profesional, Solusi untuk Perumahan Rakyat

Profesional, Solusi untuk Perumahan Rakyat 0

IHSG beberapa kali mengalami tekanan. Salah satu penyebabnya adalah pengumuman Jokowi mengenai kabinet di pemerintahaannya

BTN Belum Menaikan Suku Bunga KPR dan KPA

BTN Belum Menaikan Suku Bunga KPR dan KPA 0

Berita terkini mengenai layanan perbankan saat ini adalah adanya kebijakan yang dikeluarkan oleh PT Bank

Miliki Hunian Impian dengan KPR Bank BCA

Miliki Hunian Impian dengan KPR Bank BCA 0

Semua orang termasuk Anda tentunya ingin memiliki hunian impian sebagai tempat tinggal Anda dan keluarga.

No Comments

No Comments Yet!

No one have left a comment for this post yet!

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *