Teropong Bisnis | Homepage
Rupiah Galau, BI Tenang…!

Rupiah Galau, BI Tenang…!

0 Comments 🕔30.Nov 2013

Mungkin beberapa orang merasa sedih dan tidak nyaman, bila mereka melihat keadaan Rupiah saat ini. Memang, banyak orang menyayangkan keadaan Rupiah yang masih melemah saat ini. Padahal, salah satu masalah yang membuat Rupiah melemah, yaitu penutupan pemerintahan Amerika Serikat dan masalah ekonomi di negara adidaya ini, sudah selesai.

Tentunya, banyak pelaku pasar yang ingin, Rupiah segera naik ke level normal sebelum krisis. Tetapi, Bank Indonesia berpendapat lain. Nilai tukar Rupiah yang berada di level Rp. 11.500 per dollar AS dianggap normal dan seusai dengan kondisi perekonomian Indonesia saat ini

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara juga sependapat dengan hal ini. Memang, nilai tukar Rupiah saat ini berada di tren melemah. Tetapi, dengan nilai tukar yang mencapai Rp. 11.500, hal ini seharusnya tidak mempengaruhi para eksportir. Bahkan, eksportir sudah dapat mulai mengekspor produk-produk mereka.

Mirza juga menambahkan bahwa masalah utang yang tersisa tidak perlu dikhawatirkan lagi. Dari sisi pembayaran utang, untuk utang yang jatuh tempo sudah di-rollover. Meskipun jumlah utang jenis ini sangatlah besar, tetapi bukan menjadi masalah lagi.

Dilain sisi, jumlah utang yang tak di-rollover juga cukup besar. Akan tetapi, utang jenis ini sudah ada sumber pembiayaannya, jadi pelaku pasar tidak perlu membeli dollar di pasar.

Sebenarnya, bila masalah utang ini sudah selesai, maka Indonesia berada di jalur yang tepat untuk menuju perbaikan. Dan, hal ini dapat menjadi kesempatan emas untuk anda yang ingin berinvestasi.

Kebijakan yang diambil BI sebagai bank sentral untuk negara Indonesia, menurut Mirza sudah sangat tepat. Kebijakan ini dia namakan sebagai bauran kebijakan. Alasannya, kebijakan ini dibuat berdasarkan kombinasi dari berbagai kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh BI. Contohnya, didalamnya ada kebijakan mengenai suku bunga, LTV, kurs, pembatasan Loan Deposit Ration (LDR) dan lainnya.

Tetapi, Mirza juga mengatakan bahwa BI juga melihat beberapa aspek sebelum menerapkan kebijakan ini. Contohnya, aspek keketatan likuiditas, situasi perbankan, dan lainnya. Hal ini perlu dilakukan agar kebijakan ini tidak menjadi masalah pada sektor riil.

Untuk mendukung kebijakan BI tersebut, Mirza juga mengungkapkan bahwa BI selalu meminta pihak perbankan untuk bekerja sama. Salah satunya adalah lebih selektif dalam masalah pertumbuhan kredit dan pendanaan.

Untuk pertumbuhan kredit, Mirza menyarankan agar pihak perbankan lebih mengendalikan pertumbuhan kredit untuk sektor dengan import content yang besar.

Sedangkan untuk pendanaan, pihak perbankan juga perlu membatasi agar pertumbuhan kredit berjalan lambat. Hal ini sangat penting untuk mencegah rebutan dana dan deposit oleh pihak ketiga. Bila hal ini terjadi, maka akibatnya dapat menaikkan suku bunga deposit, dan hal ini tidak baik untuk perbaikan kondisi Rupiah dan perekonomian Indonesia.

Similar Articles

Kulik Lebih dalam Tentang Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap

Kulik Lebih dalam Tentang Investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap 0

Investasi reksa dana dapat menjadi penolong Anda, saat Anda mengalami kesulitan keuangan di masa depan. Namun,

Perkembangan Trend Deflasi Di Indonesia

Perkembangan Trend Deflasi Di Indonesia 0

Saat ini banyak diantaranya negara yang mengalami trend deflasi yang disebut pula sebagai deflasi global. Sementara untuk

6 Tips Sederhana Bebas Masalah Keuangan

6 Tips Sederhana Bebas Masalah Keuangan 0

Masalah keuangan seringkali hadir dalam hidup Anda dikarenakan Anda tidak dapat mengatur bagaimana penggunaan uang Anda.

Benarkah Reksa Dana dapat Dihibahkan?

Benarkah Reksa Dana dapat Dihibahkan? 0

Berbicara mengenai masalah aset, kemudian hibah dan juga warisan memang tidak dapat dipisahkan antara satu

Pengakuan RMB (Renminbi) Tiongkok Sebagai Mata Uang Dunia

Pengakuan RMB (Renminbi) Tiongkok Sebagai Mata Uang Dunia 0

Baru-baru ini IMF atau Dana Moneter Internasional mengambil sebuah keputusan yang berhubungan dengan SDR yaitu

No Comments

No Comments Yet!

No one have left a comment for this post yet!

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *