Teropong Bisnis | Homepage
Nilai Tukar Rupiah Lemah, Industri Bank Kritis

Nilai Tukar Rupiah Lemah, Industri Bank Kritis

0 Comments 🕔04.Dec 2013

Beberapa pekan ini, pelaku pasar dibuat khawatir dengan keadaan nilai tukar Rupiah yang terus melemah. Bahkan, beberapa saat yang lalu,nilai tukar Rupiah hampir mendekati Rp. 12.000 per Dollar AS yang menjadi level terendah sejak April 2009.

Pemerintah tentunya tidak tinggal diam dengan keadaan ini. Ada banyak hal dan kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah demi mengangkat kembali nilai tukar Rupiah. Salah satunya adalah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate.

Akan tetapi, naiknya BI rate ini ternyata mendatangkan kekhawatiran beberapa pihak. Dikhawatirkan, naiknya nilai BI Rate dan melemahnya nilai tukar Rupiah akan mengancam industri perbankan. Hal ini dikarenakan akan ada persaingan untuk memperebutkan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan naiknya bunga kredit.

Kenaikan BI Rate ini juga menyebabkan banyak bank menaikkan suku bunga kredit mereka. Contohnya, Bank Central Asia (BCA), yang sebelumnya menyampaikan belum berencana untuk menaikkan suku bunga kredit mereka sampai April 2014, ternyata sudah mulai menaikkan Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK). Kenaikan SBDK BCA sebesar 50 basis poin untuk kredit koporasi dan 25 basis poin untuk kredit ritel. Kenaikkan ini berlaku mulai 30 November 2013.

Selain BCA, Bank Permata juga menaikkan suku bunga kredit mereka. Kenaikan SBDK mereka sebesar 25 basis poin untuk kredit korporasi, ritel dan konsumsi non-kredit pemilikan rumah (non-KPR).

Bank Internasional Indonesia (BII) juga menaikkan SBDK mereka sebesar 25 basis poin untuk kredit ritel dan KPR.

Menurut ekonom sekaligus Komisaris Independen BII, Umar Juoro, langkah BI menaikkan BI Rate membawa dampak buruk bagi industri perbankan. Banyak bank yang khawatir kehilangan nasabah, sehingga mereka menaikkan bunga simpanan. Dan, untuk menutupi dana yang digunakan untuk hal ini, bank-bank ini terpaksa menaikkan bunga kredit.

Hal ini tentunya tidak baik untuk kondisi perbankan, karena resiko terjadinya kredit macet akan menjadi lebih besar. Dan, menurut Umar, hal ini terjadi pada semua bank, baik besar atau kecil.

Sedangkan menurut Eko B Supriayanto, peneliti The Finance Research, melemahnya nilai tukar Rupiah ini juga menyebabkan likuiditas valuta asing (valas) di bank semakin ketat. Dampaknya, akan banyak perusahaan yang mengajukan kredit valas untuk menjalankan usaha mereka.

Yang menjadi masalah disini adalah perusahan-perusahaan tersebut memiliki pendapatan dalam Rupiah. Jadi, mereka akan mengalami masalah untuk proses pembayaran kredit yang mereka ambil. Bila hal ini sampai terjadi, tentunya akan mempengaruhi harga produk atau layanan yang mereka sediakan. Yang lebih buruk, perusahaan-perusahaan ini dapat bangkrut bila masalah ini tidak terselesaikan, dan dampak langsungnya akan datang pada kondisi pertumbuhan perekonomian di Indonesia.

Selain itu, adanya persaingan bunga simpanan juga menyebabkan adanya flight to quality. Nasabah akan lebih memilih bank yang lebih baik untuk menyimpan dana mereka. Hal ini akan menyebabkan kacaunya likuiditas bank di Indonesia.

 

Similar Articles

Coba Investasi Emas Antam dengan Motif Unik

Coba Investasi Emas Antam dengan Motif Unik 0

Emas Antam menjadi salah satu produk investasi emas yang banyak digunakan masyarakat. Produk yang dikeluarkan oleh

Ini Dia Kebijakan Ekonomi Terbaru yang Diluncurkan Oleh Jokowi

Ini Dia Kebijakan Ekonomi Terbaru yang Diluncurkan Oleh Jokowi 0

Saat ini pihak pemerintah tengah bersiap untuk meluncurkan paket aturan terbaru dalam sektor investasi yang

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2015 Masih Belum Menghadirkan Senyuman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2015 Masih Belum Menghadirkan Senyuman 0

Akhir tahun 2015 sudah dekat dan pertanyaan penting yang muncul adalah bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia? Jawabannya

Fokus Utama Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia

Fokus Utama Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia 0

Seperti yang kita tahu bahwa sektor perekonomian merupakan fokus utama bagi semua pemerintahan, tidak terkecuali

Filosofi 5 Jari Dalam Pemberdayaan UMKM

Filosofi 5 Jari Dalam Pemberdayaan UMKM 0

Pemberdayaan UMKM atau Usaha Mikro, Kecil dan Menengah saat ini semakin berkembang dari zaman ke

No Comments

No Comments Yet!

No one have left a comment for this post yet!

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *