Teropong Bisnis | Homepage
Kerugian Pengrajin Tahu, Karena Harga Kedelai Melonjak

Kerugian Pengrajin Tahu, Karena Harga Kedelai Melonjak

0 Comments 🕔11.Sep 2013

Tahu dan tempe bisa dikatakan sebagai makanan paling populer di Indonesia. Selain enak rasanya, tempe dan tahu juga mudah untuk diolah. Akan tetapi, karena nilai tukar Rupiah yang terus menurun, menyebabkan harga kedelai sebagai bahan baku tempe melonjak tinggi. Hal ini memberatkan para produsen dan pengrajin tempe.

Oleh karena itu, asosiasi pengrajin tempe tahu seluruh Indonesia memutuskan untuk melakukan mogok produksi dan berjualan mulai tanggal 9 September ini. Dan, hal ini merugikan para pengrajin tempe tahu, seperti salah satu contohnya adalah Mukrom.

Mukrom adalah pengrajin spesial tahu yang menjalankan usahanya di daerah Gang Tempe Sungai Bambu Jakarta Utara. Dia mempunyai 3 pegawai yang membantunya untuk menjalankan usahanya ini.

Besar Produksi Usaha Mukrom

Usaha pembuatan tahu Mukrom bisa dibilang sebagai usaha kelas kecil menengah. Dia menggunakan 50 kg kedelai sebagai bahan baku untuk membuat tahu setiap harinya.

Dari bahan yang dia gunakan, Mukrom mengaku bisa memproduksi 35 papan tahu setiap harinya. Hasil produksi perhari tempat pembuatan tahu ini, dia jual dengan total harga 550 ribu Rupiah. Jadi bisa dikatakan per papan dia jual seharaga 15 ribu Rupiah.

Jenis kedelai yang dipakai Mukrom adalah kedelai impor. Hal ini karena kedelai impor sangat baik untuk menghasilkan tahu yang berkualitas tinggi.

Kerugian Yang Diderita

Untuk membeli bahan baku yang dibutuhkan untuk usaha pembuatan tahu ini, Mukrom mengaku menghabiskan 1 juta Rupiah per harinya. Dia membeli 1 kwintal kedelai yang bisa diolah untuk pembuatan tahu.

Makrom membeli bahan baku langsung dari pemasok dan pengrajin kedelai. Meskipun begitu, harga yang dia dapat lumayan besar dan merugikan. Biasanya, dia membeli kedelai impor dengan harga 7500 Rupiah per kg. Sekarang, dia harus membayar sebesar 10 ribu Rupiah per kg dan tentunya hal ini tidak akan menjadi masalah bila harga jual tahu juga naik nantinya.

Akan tetapi, karena ada aksi mogok mulai tanggal 9 September ini, Mukrom mengaku mengalami kerugian yang sangat besar. Dia masih harus membayar 3 orang pegawainya dengan gaji tetap, meskipun tidak ada pekerjaan yang mereka lakukan, seperti saat usaha pembuatan tahunya beroperasi secara penuh. Gaji yang harus dia bayar untuk tiap pegawainya adalah 1,5 juta per bulan.

Selain gaji untuk pegawainya, dia masih ada tanggungan biaya untuk istri, anak dan keluarganya.  Meskipun dengan mogok produksi Mukrom mengalami kerugian yang besar, tapi, dia mengaku pasrah. Hal ini karena aksi mogok ini sudah disepakati dan dikoordinasikan oleh Gakoptindo.

Mungkin Mukrom dan pengrajin tahu dan tempe yang lain hanya perlu bagaimana respon pemerintah atas aksi mogok ini. Apakah akan ada tindakan pemerintah untuk menormalisasi harga kedelai?

Similar Articles

Coba Investasi Emas Antam dengan Motif Unik

Coba Investasi Emas Antam dengan Motif Unik 0

Emas Antam menjadi salah satu produk investasi emas yang banyak digunakan masyarakat. Produk yang dikeluarkan oleh

Ini Dia Kebijakan Ekonomi Terbaru yang Diluncurkan Oleh Jokowi

Ini Dia Kebijakan Ekonomi Terbaru yang Diluncurkan Oleh Jokowi 0

Saat ini pihak pemerintah tengah bersiap untuk meluncurkan paket aturan terbaru dalam sektor investasi yang

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2015 Masih Belum Menghadirkan Senyuman

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2015 Masih Belum Menghadirkan Senyuman 0

Akhir tahun 2015 sudah dekat dan pertanyaan penting yang muncul adalah bagaimana kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia? Jawabannya

Fokus Utama Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia

Fokus Utama Menjaga Stabilitas Sistem Keuangan Indonesia 0

Seperti yang kita tahu bahwa sektor perekonomian merupakan fokus utama bagi semua pemerintahan, tidak terkecuali

Filosofi 5 Jari Dalam Pemberdayaan UMKM

Filosofi 5 Jari Dalam Pemberdayaan UMKM 0

Pemberdayaan UMKM atau Usaha Mikro, Kecil dan Menengah saat ini semakin berkembang dari zaman ke

No Comments

No Comments Yet!

No one have left a comment for this post yet!

Write a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *